Waktu AS Melunak, Iran Semakin Sangar Untuk Balas Dendam

Waktu AS Melunak, Iran Semakin Sangar Untuk Balas Dendam

Satu hari sesudah Donald Trump seperti menunjukkan ingin kurangi kemelut, beberapa petinggi Iran malah bersumpah akan membalas dendam atas pembunuhan seorang jenderal tertingginya. Sambil menggarisbawahi jika serangan rudal mereka awalnya ke pangkalan militer Amerika tidak ditujukan untuk membunuh.

Mencuplik The New York Times, Jumat (10/1/2020), selang satu hari selesai Trump mundur dari perselisihan militer selanjutnya dengan Iran, seorang komandan Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) atau Korps Pengawal Revolusi Islam negara itu mengatakan jika Negeri Beberapa Mullah akan selekasnya lakukan "pembalasan yang lebih keras" pada Amerika Serikat --atas serangan pesawat tanpa ada awak minggu lantas yang tewaskan seorang jenderal top Iran. Sedang pemimpin militer yang lain menjelaskan serangan rudal dari negaranya yang membidik masyarakat Amerika di Irak minggu ini tidak ditujukan untuk membunuh siapa juga.

Pengakuan itu hanya beberapa pesan yang diserahkan oleh beberapa pemimpin Iran pada Kamis 9 Januari sesudah serangan rudal Iran, yang menghajar dua pangkalan militer di Irak yang memuat pasukan Amerika. Kematian Jenderal Qasem Soleimani sang pemimpin Pasukan Quds bergema di semua negeri, menggerakkan ajakan untuk membalas dendam serta serangan balasan oleh Iran.

"Runtutan rudal pada Rabu 8 Januari tidak tewaskan tentara Amerika, serta nampaknya sudah memunculkan sedikit kerusakan pada pangkalan udara di Asad serta Erbil yang memuat beberapa ribu prajurit dan wanita Irak serta Amerika. Serta walau Tehran menjelaskan selanjutnya jika mereka sudah ambil beberapa langkah seimbang untuk membalas pembunuhan Jenderal Qasem, beberapa petinggi di lokasi itu mengingatkan jika Iran kemungkinan tidak lakukan manuver serta tidak tinggalkan maksudnya untuk menyingkirkan Amerika Serikat keluar dari Timur Tengah.

Di hari Kamis, menurut kantor berita Tasnim Iran, komandan angkatan udara IRGC, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, memvisualisasikan serangan di pangkalan di Irak jadi awal dari "operasi besar" pada Amerika Serikat. Tapi dia mencatat jika serangan itu tidak mempunyai tujuan untuk membunuh siapa juga. Ia secara cepat menindaklanjuti dengan klaim jika "beberapa puluh orang terbunuh serta terluka," satu point yang diperdebatkan oleh orang Amerika, Irak, serta media internasional yang lain.

Baca juga : Massa Yang Akan Demonstrasi Yasonna Bergerak Dari Priok, Dikawal Polisi

Seorang komandan senior IRGC, Abdollah Araghi, menjelaskan di hari Kamis jika angkatan bersenjata Iran akan "memaksa balas dendam yang lebih keras pada lawan dalam tempo dekat," menurut Tasnim. Presiden Iran Hassan Rouhani berbicata dengan Pertama Menteri Boris Johnson dari Inggris pada Kamis pagi, serta mengingatkan aksi selanjutnya, menurut kantor presiden. "Bila AS membuat kekeliruan lain, negara itu akan terima tanggapan yang benar-benar beresiko," kata Rouhani, menurut pengakuan itu.

Wakil jenderal IRGC, Ali Fadavi, janji akan membalas dendam, berdasar laporan terpisah dari Tasnim versus bahasa Inggris. "Langkah ini salah satu aktualisasi dari potensi kami," kata Jenderal Fadavi dalam pidatonya di Propinsi Isfahan. Tidak ada negara yang pernah membuat langkah besar menantang Amerika Serikat seperti yang kita kerjakan. Kami menjatuhkan beberapa puluh rudal ke jantung pangkalan AS di Irak serta mereka tidak dapat melakukan perbuatan apa-apa," tegas Ali.

Masih menurut Tasnim, pemimpin baru Pasukan Quds, Ismail Qaani, wakil Jenderal Qasem, meluncurkan pengakuan di hari Kamis yang menguraikan komitmennya sendiri untuk bergerak maju dengan jadwal pendahulunya di daerah itu. Jenderal Qaani memberikan tambahan jika arah intinya ialah menyingkirkan pasukan Amerika keluar dari daerah itu. Saat retorika dari pasukan Iran menghangat, beberapa pemimpin internasional yang lain ingin turunkan kemelut. Serta beberapa dari pengakuan di hari Kamis nampaknya benar-benar kontras yang dibikin oleh petinggi pemerintah Iran satu hari awalnya.

Ulama Syiah Irak yang punya pengaruh, Moktada al-Sadr minta barisan milisi yang di dukung Iran tidak untuk lakukan serangan selanjutnya, serta saat dia mengutamakan jika Irak tetap harus berupaya untuk menyingkirkan pasukan asing, berdasar laporan Reuters. "Saya minta faksi-faksi Irak untuk waspada, sabar, serta tidak mengawali tindakan militer, serta untuk tutup beberapa suara ekstremis dari beberapa komponen jahat sampai semua cara politik, parlementer serta internasional sudah habis," kata Moktada al-Sadr.

Beberapa analis mengingatkan jika masih ada peluang makin banyak tindakan militer oleh Iran, walau pemerintah bersumpah jika pembalasan sudah selesai. Sanam Vakil, seorang sarjana Iran di Chatham House, satu pusat riset di London, menjelaskan peluang serangan masih tinggi, mencatat pekerjaan eskalasi Iran dalam beberapa waktu paling akhir untuk "memperoleh dampak terbatas" dalam perselisihan yang sudah berjalan lama dengan Amerika Serikat atas hukuman sangsi yang diberi pada negara itu.

"Aksi serta reaksi kinetik yang makin banyak tidak terhindar," catat Vakil dalam rangkaian posting di Twitter yang menguraikan perspektifnya. Tidak terdapatnya timbal balik langsung di antara Iran serta Amerika Serikat untuk menurunkan kemelut serta kebuntuan atas persetujuan nuklir Iran, yang mendadak ditarik Trump dari tahun kemarin -- adalah unsur susah penting. "Tanpa ada jalan keluar yang riil, eskalasi ada pada tingkat rendah" seperti serangan rudal dari barisan proksi, serangan siber serta intimidasi pada pengiriman Teluk "tidak disangsikan akan bersambung dalam beberapa waktu akan datang bila tidak lewat penentuan AS," imbuhnya.

2 thoughts on “Waktu AS Melunak, Iran Semakin Sangar Untuk Balas Dendam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

travel blog ideas

Desain by Pleasantbaymotel

Support by togel singaporerajapoker onlinehttp://199.192.27.139/agen togelresulttogelindonesia.net m88 alternative | domino99 | datahk | datasgp